Oleh: Dahlan Iskan
Minggu 01-02-2026
Radar Nusantara, Bandung – Black Weekend. Panik. Serbasalah. Weekend kali ini agak lain. Bulan pertama tahun 2026 ternyata harus ditutup dengan kisah sedih di akhir minggu.
Dimulai hari Rabu: indeks harga saham gabungan (IHSG) turun lebih tujuh persen. Begitu besarnya sampai perdagangan saham dihentikan. Kamis masih juga jeblok. Pun setelah perdagangan dihentikan lagi. Total turun lebih delapan persen: ditutup di angka Rp8.300.
Sebenarnya angka itu masih di atas harga saat Prabowo dilantik sebagai presiden. Tapi anjlok begitu dalam memang menjadi drama yang menegangkan.
Siapa pun akan panik: bagaimana cara menyelamatkannya. Wajah Presiden Prabowo seperti ditampar terang-terangan di atas panggung dunia.
Saya bisa bayangkan betapa marah Presiden Prabowo. Tapi saya tidak bisa membayangkan apakah cukup kalau hanya handphone yang harus dilempar.
Tapi, dalam hal ini, siapa yang harus dilempar sesuatu?
Dari respons petinggi Danantara terlihat tudingan utama terarah ke regulator. Misalnya seperti yang diucapkan Pandu Syahrir, CIO Danantara.
“Katakanlah ada yang goreng-goreng saham. Jangan pemainnya yang disalahkan. Tidak ada gunanya,” ujar Pandu di Prasasti Economic Forum 2026 di Jakarta. “Pemain hanya memanfaatkan peluang yang tersedia,” tambahnya.
Berkali-kali Pandu menyebut regulator yang sangat lambat berbenah diri. “Kan sudah diingatkan sejak tiga atau empat bulan lalu,” kata Pandu. “Sudah diingatkan berkali-kali. Akhirnya beneran terjadi,” katanya.
Lalu panik. Tidak ada gunanya lagi.
Tanda kepanikan pertama terlihat dari keluarnya peraturan dari pemerintah: dana asuransi boleh lebih banyak dipakai membeli saham. Boleh sampai 20 persen. Dulunya dana asuransi amat dibatasi: hanya boleh lima persen yang dipakai main saham.
Tujuan perubahan peraturan itu bisa dibaca dengan jelas: agar indeks harga saham bisa dinaikkan lagi. Artinya: asuransi diminta memborong saham di bursa. Mumpung harga turun.
Tentu yang diincar adalah BPJS Kesehatan dan BPJS Tenaga Kerja. Di situlah yang punya dana ratusan triliun rupiah. Kelihatannya masuk akal. Dana asing yang meninggalkan bursa digantikan dana asuransi dalam negeri. Asuransi juga bisa untung karena harga saham lagi turun. Lalu harga saham bisa naik lagi.
Tapi itu dibaca negatif oleh pasar. Itu justru membahayakan asuransi. Kok tidak belajar dari bencana yang menimpa Asabri dan Jiwasraya: uang asuransi bisa ludes lagi di pasar modal.
Bukan itu yang diperlukan pasar global. Lembaga pemeringkat pasar modal Morgan Stanley Capital International (MSCI) sudah merinci apa yang harus diubah di Bursa Efek Indonesia: empat hal saja. Tidak ingin ada pertolongan seperti dari dana asuransi seperti itu.
Empat hal yang diminta MSCI itu Anda sudah hafal: perbaikan transparansi data, persentase saham yang dijual bebas, keterbukaan struktur kepemilikan saham di pasar modal, dan tata kelola pasar modal yang lebih baik.
MSCI sangat toleran: memberi waktu sampai Mei depan. Setelah itu barulah MSCI akan mengevaluasi BEI lagi: ada perbaikan yang nyata atau tidak. Kalau tidak maka BEI akan diturunkan kelasnya: ke kelas terbawah –setara dengan bursa di beberapa negara kecil di Afrika. Di Asia kita menjadi sekelas dengan Bangladesh dan Sri Lanka.
Kelas itu disebut sebagai ”kelas Frontier”. Pemula. Padahal selama ini BEI sudah berada di kelas Emerging. Di atas emerging barulah kelas Developed.
Turun kelas itu belum pasti. Bisa saja tidak. Asal kita melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Dan lagi MSCI bukan satu-satunya lembaga pemeringkat. Belum tentu dua lembaga serupa setuju dengan MSCI.
Sebenarnya regulator masih punya waktu. Bahwa kemarin-kemarin seperti mengabaikan peringatan itu, tinggal cepat-cepat bangun dan berarti.
Tak disangka yang terjadi justru kepanikan yang meluas.
Kita tentu tidak tahu seberapa seru saling menyalahkan di lingkungan pemerintah –kalau ada. Seberapa keras kata-kata yang terucapkan –kalau ada. Seberapa banyak benda yang melayang –kalau ada.
Yang jelas Jumat sore muncul pernyataan Mahendra Siregar, ketua Otoritas Jasa Keuangan: ia mengundurkan diri. Disusul oleh Iman Rachman, dirut PT BEI. Ditambah lagi dua pimpinan OJK lainnya.
Maka akhir pekan ini terlihat betapa kalut di elite negara ini. Awalnya saya mengira turunnya harga saham itu disikapi dengan tenang: begitulah perilaku pasar modal. Lalu, dengan pikiran tenang, dicari jalan keluarnya. Tentu hasilnya tidak bisa instan tapi fondasinya sudah diperbaiki.
Dengan pengunduran diri masal itu persoalan kian rumit. Bisa hancur sampai fondasinya. Mengganti ketua OJK perlu prosedur yang panjang. Memakan waktu. Sampai lewat fit and proper test di DPR.
Lalu harus bagaimana mengatasi krisis saham di hari libur seperti ini secara cepat.
Jelaslah bahwa krisis harga saham muncul setelah lembaga pemeringkat asing, MSCI, mengeluarkan rapor merah untuk BEI. Lengkap dengan ancaman akan diturunkan kelasnya.
Betapa fakta itu kian menampar Presiden Prabowo: begitu sering Prabowo menghujat asing dan antek asing di pidato-pidato garangnya. Tiba-tiba ini ada asing yang terang-terangan menjatuhkan pasar modal Indonesia.
Maka Sabtu kemarin –dan Minggu hari ini– bola panas mondar-mandir liar di Jakarta. Di saat perdagangan bursa libur dua hari serangkaian ”kebakaran” terjadi di pasar modal Jakarta.
Ini adalah Sabtu-Minggu yang sangat menentukan. Hasilnya: baru bisa kita lihat Senin pagi besok. Seperti apa pasar merespons langkah di dua hari libur ini.
Menunggu pembukaan perdagangan saham Senin besok adalah momentum yang lebih mendebarkan dari bagaimana menemukan pembunuh anak wali kota dalam film terlaris Agak Laen: Menyalak Pantiku! (Dahlan Iskan)
Ket Foto: (ILUSTRASI IHSG Rontok, Permainan atau Mekanisme Pasar)