
- Bocor! Petinggi OJK Diultimatum: Mundur atau Ditangkap?
Radar Nusantara, Bandung – Skandal panas bursa! Petinggi OJK & BEI mundur massal setelah ultimatum maut jam 6 sore. Bongkar mafia financial engineering & goreng saham.
Drama “Black Friday” mengguncang pasar modal Indonesia secara mendadak. Pengunduran diri massal pimpinan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat malam memicu spekulasi liar.
Bocoran eksklusif menyebut para petinggi tersebut tidak mundur secara sukarela. Mereka menghadapi Ultimatum Mundur Petinggi OJK yang sangat keras: “Lepaskan jabatan sebelum pukul 18.00 WIB, atau hadapi penangkapan.”
Oleh karena itu, publik kini mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi dalam otoritas keuangan kita. Selain itu, langkah drastis ini menjadi sinyal pembersihan total dari sistem yang diduga dikuasai mafia financial engineering.
Presiden tampaknya sedang memutus rantai kelompok yang menggunakan regulasi untuk merampok uang publik.
Operasi Bersih-Bersih: Ancaman Penjara di Balik Jam 6 Sore
Informasi akurat menyebutkan bahwa tekanan ini bertujuan membongkar lingkaran setan di pasar modal. Regulator selama ini dianggap gagal menjalankan tugas utamanya.
Mereka membiarkan judi online merajalela dan mengabaikan praktik goreng saham yang merugikan investor ritel secara sistematis.
Namun, pengunduran diri ini bukan sekadar pergantian kursi jabatan biasa. Pemerintah ingin memastikan tidak ada lagi pemain bursa yang bisa selamat dari tanggung jawab hukum.
Akibatnya, status pasar modal Indonesia kini berada dalam posisi “siaga satu” untuk reformasi total. Jadi, langkah ini merupakan titik awal untuk mengembalikan integritas pasar modal Indonesia.
Dosa Transparansi dan Hukuman Keras dari MSCI
Ketidakterbukaan data pemegang saham di bawah 5% menjadi pemicu utama kemarahan otoritas. Hal inilah yang membuat lembaga indeks global, MSCI, menghukum bursa Indonesia. Mereka menilai pasar kita tidak transparan dan penuh rekayasa harga yang menipu publik.
Manipulasi Harga: Saham tertentu melonjak hingga 500% kemudian anjlok seketika demi keuntungan pribadi.
Volume Palsu: Pasar sangat mudah dimainkan oleh segelintir oligarki karena volume perdagangan harian yang kecil.
Insider Trading: Kelompok tertentu diduga menggunakan bocoran kebijakan internal untuk mengeruk keuntungan di bursa.
Oleh sebab itu, transparansi total menjadi harga mati bagi pasar internasional. Jika bursa RI ingin kembali dipercaya investor asing, maka pembersihan ini harus tuntas hingga ke akar-akarnya.
Harapan Baru: Pasar Menyambut Positif Aksi Bersih-Bersih
Meskipun suasana terlihat mencekam, pasar justru memberikan respon yang sangat positif. IHSG tercatat mulai rebound ke zona hijau pada perdagangan terakhir.
Investor tampaknya lebih menyukai aksi bersih-bersih radikal daripada membiarkan mafia tetap berkuasa di dalam sistem.
Jadi, langkah berani pemerintah ini harus segera berlanjut ke tahap penegakan hukum. Masyarakat kini menanti KPK dan kepolisian untuk mengusut tuntas aliran dana koruptif yang selama ini berlindung di balik jubah regulator. Kepercayaan global hanya akan kembali jika para pengkhianat ekonomi ini benar-benar diproses secara hukum.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait saham, komoditas, kripto atau surat berharga lainnya. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. BursaNusantara tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Sumber: Bursa Nusantara