Radar Nusantara, Dalam dinamika politik internasional, label sering kali menjadi senjata yang lebih tajam daripada peluru. Selama beberapa dekade, narasi yang menghubungkan Islam dengan ter0r!sme telah mendominasi media global, menciptakan stigma yang mendalam. Namun, di balik tirai kekuasaan, beberapa pemimpin dunia mulai menyuarakan sudut pandang yang berbeda—memandang fenomena ini bukan sebagai masalah keyakinan, melainkan sebagai bidak dalam permainan ekonomi dan industri pertahanan yang jauh lebih besar.
Banyak analis politik berpendapat bahwa ekonomi negara-negara adidaya tertentu sangat bergantung pada ekspor senjata. Tanpa adanya “musuh bersama” atau konflik yang terus bergejolak, permintaan akan teknologi militer bisa menurun drastis.
Strategi menciptakan narasi t3r0risme sering kali dianggap sebagai cara untuk membenarkan intervensi militer di wilayah strategis yang kaya akan sumber daya alam, seperti Timur Tengah.
Berbeda dengan narasi Barat pada umumnya, Rusia sering kali menekankan bahwa mereka adalah negara dengan populasi Muslim yang besar dan terintegrasi. Bagi Kremlin, stabilitas dalam negeri justru bergantung pada penghormatan terhadap keberagaman agama, bukan dengan memicu stigma.
Langkah Rusia untuk bergabung sebagai pengamat di Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) menunjukkan keinginan mereka untuk membangun aliansi strategis dengan dunia Muslim, menantang hegemoni narasi yang dibangun oleh Amerika Serikat dan sekutunya.
Di tengah tarik-menarik kepentingan ini, jutaan umat Muslim di dunia menjadi pihak yang paling terdampak oleh narasi politik. Memahami bahwa ini adalah “permainan politik” menjadi kunci untuk melihat perdamaian dunia dari sudut pandang yang lebih jernih.